Banjir di Jakarta


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jakarta sebagai Ibukota Negara yang merupakan citra Negara dan barometer ekonomi, setiap waktu harus ada peningkatan pembangunan. Akibat dari pembangunan tata ruang yang salah banyak masyarakat yang tidak lagi mempedulikan lingkungan disekitarnya, sehingga banyak masyarakat yang membangun rumah-rumah di bantaran sungai dan banyak juga yang membuang sampah ke sungai. Tidak hanya itu, penebangan hutan yang tidak terkontrol juga merupakan penyebab banjir di Jakarta. Padahal Peraturan Menteri pekerjaan Umum No.63/1993 tentang Garis Sempadan Sungai, dan juga Pasal 12 yang memuat pelarangan pendirian bangunan permanen atau hunia dan tempat usaha, yang sekaligus mempersempit ruang infiltrasi di Jakarta.

Adanya pelanggaran peraturan tersebut, jika terjadi curah hujan dalam jangka waktu pendek maupun panjang maka dapat memicu terjadinya banjir di Jakarta, karena disebabkan oleh berbagai faktor yaitu buruknya penanganan sampah seperti tidak adanya tempat pembuangan sampah yang ideal sehingga sumber saluran-saluran air menjadi tersumbat, pembangunan tempat permukiman, dimana ruang yang kosong (empty space) diubah menjadi jalan atau tempat parkir, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan sehingga daya serap (infiltrasi) air hujan menjadi lambat.

Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Pada dasarnya banjir itu disebabkan oleh luapan aliran air yang terjadi pada saluran atau sungai. Bisa terjadi dimana saja ditempat yang tinggi maupun tempat yang rendah, khususnya yang mempunyai keadaan daerah relatif datar. Banjir memang menjadi masalah rutin bagi warga Jakarta. Jakarta termasuk salah satu daerah yang menjadi langganan banjir di musim penghujan.

Setiap kali terjadi banjir di Jakarta sering terdengar ungkapan banjir itu kiriman dari Bogor. Tudingan itu muncul karena hampir semua sungai yang bemuara di jakarta berhulu di wilayah Kabupaten Bogor. Daerah aliran sungai (DAS) yang berasal dari Bogor adalah DAS Cakung, DAS Angke, DAS Sunter, DAS Kalibaru, dan DAS Krukut. Banjir yang terjadi di Jakarta tidak hanya karena aliran air dari Bogor, dimana banjir kiriman berarti hujan hanya terjadi di daerah Bogor, Kenyataannya hujan juga terjadi di Jakarta, ditambah dengan pasang laut DAS hulu Ciliwung berbentuk seperti corong yang terdiri dari berbagai anak sungai dan menyempit di bendungan Katulampa.

Banjir merupakan hal yang kompleks, harus segera ditangani agar akibat ayng ditimbulkannya tidak banyak merusak dan merugikn masyarakat sekitarnya, mengingat Jakarta merupakan Ibukota negara yang merupakan citra negara dan barometer ekonomi. Banjir merupakan sebuah masalah yang selalu terjadi di Indonesia. Banjir selalu melanda di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama adalah Jakarta yang menjadi sorotan utama.

1.2. Rumusan Masalah

Mengingat banjir menjadi sorotan utama dalam masalah di Jakarta terutama pada setiap bulan penghujan, maka perumusan masalah dalam penulisan ini, antara lain :

a. Apakah penyebab banjir yang selama ini kerap kali melanda Jakarta?

b. Apa saja dampak yang ditimbulkan setiap kali terjadi banjir di Jakarta?

c. Apakah fakta apa saja dari banjir di Jakarta?

d. Solusi apa yang harus dilakukan pemerintah dalam menangani permasalahan tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini, antara lain:

a. Memberikan gambaran penyebab banjir yang melanda Jakarta.

b. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari banjir di Jakarta.

c. Mengetahui fakta apa saja dari masalah banjir.

d. Mengupayakan solusi terbaik bagi pemerintah dalam penanganan banjir.

1.4. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ini, antara lain:

a. Dapat mengenali penyebab banjir yang melanda Jakarta.

b. Dapat mengetahui dampak yang ditimbulkan dari banjir di Jakarta.

c. Dapat mengetahui fakta apa saja dari banjir di Jakarta.

d. Dapat mengupayakan solusi terbaik bagi pemerintah dalam penanganan banjir.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hakikat Banjir

Banjir adalah suatu kejadian dimana air menggenangi suatu daerah, baik volume air yang sedikit maupun sangat banyak. Bahkan suatu daerah dapat menghilang akibat terjadi banjir. Menurut SK SNI M-18-1989-F (1989), banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran.

2.1.1. Jenis-jenis Banjir di Indonesia

Menurut ahli hidrologi banjir-banjir di Indonesia dibagi menjadi 3 jenis:

a. Akibat dari peluapan sungai

Biasanya terjadi akibat dari sungai tidak mampu lagi menampung aliran air yang ada disungai itu akibat debit airnya sudah melebihi kapasitas. Akibatnya air itu akan meluap keluar dari sungai dan biasanya merupakan daerah dataran banjir. Bila curah hujan tinggi dan sistem DAS dari sungai tersebut rusak, maka luapan airnya akan terjadi di hilir sungai.

b. Banjir lokal

Banjir ini merupakan banjir yang terjadi akibat air yang berlebihan di tempat tersebut. Pada saat curah hujan tinggi dilokasi setempat dimana kondisi tanah dilokasi tersebut sulit dalam melakukan penyerapan air, maka kemungkinan terjadinya banjir lokal akan sangat tinggi sekali.

c. Banjir akibat pasang surut air laut

Saat air pasang, ketinggian permukaan air laut akan meningkat, otomatis aliran air di bagian muara sungai akan lebih lambat dibandingkan pada saat laut surut. Selain melambat, bila aliran air sungai sudah melebihi kapasitasnya (ditempat yang datar atau cekungan) maka air tersebut akan menyebar ke segala arah dan terjadilah banjir.

2.1.2. Faktor-Faktor Penyebab Banjir

Pada dasarnya banjir itu disebabkan oleh luapan aliran air yang terjadi pada saluran atau sungai. Bisa terjadi dimana saja, ditempat yang tinggi maupun tempat yang rendah. Pada saat air jatuh kepermukaan bumi dalam bentuk hujan (presipitasi), maka air itu akan mengalir ketempat yang lebih rendah melalui saluran-saluran atau sungai-sungai dalam bentuk aliran permukaan (run off) sebagian akan masuk/ meresap kedalam tanah (infiltrasi) dan sebagiannya lagi akan menguap keudara (evapotranspirasi).

Sebenarnya banjir merupakan peristiwa yang alami pada daerah dataran banjir, mengapa bisa alami?. Karena dataran banjir terbentuk akibat dari peristiwa banjir. Dataran banjir merupakan derah yang terbentuk akibat dari sedimentasi (pengendapan) banjir. Saat banjir terjadi, tidak hanya air yang di bawa tapi juga tanah-tanah yang berasal dari hilir aliran sungai. Dataran banjir biasanya terbentuk di daerah pertemuan-pertemuan sungai. Akibat dari peristiwa sedimentasi ini, dataran banjir merupakan daerah yang subur bagi pertanian, mempunyai air tanah yang dangkal sehingga cocok sekali bagi pemukiman dan perkotaan.

Ada dua faktor perubahan mengapa banjir terjadi. Pertama itu perubahan lingkungan dimana didalamnya ada perubahan iklim, perubahan geomorfologi, perubahan geologi dan perubahan tata ruang. Dan kedua adalah perubahan dari masyarakat itu sendiri. Tetapi, hujan merupakan faktor utama penyebab banjir. Perubahan iklim menyebabkan pola hujan berubah dimana saat ini hujan yang terjadi mempunyai waktu yang pendek tetapi intensitasnya tinggi. Akibat keadaan ini saluran-saluran yang ada tidak mampu lagi menampung besarnya aliran permukaan dan tanah-tanah cepat mengalami penjenuhan.

Berdasarkan penelitian Diarniti (2007) jumlah vegetasi di Denpasar, Bali pada tahun 1994 adalah 45.31% dan pada tahun 2003 itu 17.86%, sehingga menyabakan berkurangnya vegetasi sebanyak 27,45% dari tahun 1994 sampai 2003. Akibat global warming/pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan pada pola iklim yg akhirnya merubah pola curah hujan, sehingga sewaktu-waktu curah hujan bisa sangat tinggi intensitasnya dan bisa sangat rendah.

Berdasarkan analisis statistik data curah hujan dari tahun 1900 sampai tahun 1989 terhadap variansi hujan dengan menggunakan uji F dihasilkan bahwa telah terjadi perubahan intensitas hujan untuk lokasi Ambon, Branti, Kotaraja, Padang, Maros, Kupang, Palembang, dan Pontianak (Slamet dan Berliana, 2006). Berdasarkan kajian LAPAN (2006) banjir yang terjadi di Jakarta Januari tahun 2002, Juni 2004 dan Februari 2007 bertepatan dengan fenomena La Nina dan MJO (Madden-Julian Oscillation), kedua fenomena ini menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan diatas normal. Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut bukan hanya faktor iklim yang menyebabkan terjadinya banjir, tetapi juga disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan dan penyempitan saluran drainase (sungai).

Perubahan penggunaan lahan dan otomatis juga terjadi perubahan tutupan lahan, seperti penggunaan lahan itu ada pemukiman, sawah, tegalan, ladang dan lain-lain sedangkan tutupan lahan itu vegetasi yang tumbuh di atas permukaan bumi menyebabkan semakin tingginya aliran permukaan. Aliran permukaan terjadi apabila curah hujan telah melampaui laju infiltrasi tanah. Menurut Castro (1959) tingkat aliran permukaan pada hutan adalah 2.5%, tanaman kopi 3%, rumput 18% dan tanah kosong sekitar 60%. Sedangkan berdasarkan penelitian Onrizal (2005) di DAS Ciwulan, penebangan hutan menyebabkan terjadinya kenaikan aliran permukaan sebesar 624 mm/th.

Onrizal (2005) juga mengungkapkan bahwa penebangan hutan menyebabkan berkurangnya air tanah rata-rata sebesar 53.2 mm/bln. Sedangkan kemampuan peresapan air pada DAS berhutan lebih besar 34.9 mm/ bln di bandingkan dengan DAS tidak berhutan. Selain itu hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa apabila tanaman di bawah pohon hutan, tanaman-tanaman itu hilang akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan yang mencapai 6.7 m3/ha per bulan.

Hasil penelitian Bruijnzeel (1982) dalam Onrizal (2005) yang di lakukan pada areal DAS Kali Mondoh pada tanaman hutan memperlihatkan bahwa debit sungai pada bulan Mei, Juli, Agustus dan September lebih tinggi dari curah hujan yang terjadi pada saat bulan-bulan tersebut yang membuktikan bahwa vegetasi sebagai pengatur tata air dimana pada saat hujan tanaman membatu proses infiltrasi sehingga air disimpan sebagai air bawah tanah dan dikeluarkan saat musim kemarau. Menurut Suroso dan Santoso (2006) dalam WWF-Indonesia (2007) perubahan penggunaan lahan sangat berpengaruh terhadap peningkatan debit sungai.

Hasil penelitian Fakhrudin (2003) dalam Yuwono (2005) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di DAS Ciliwung tahun 1990-1996 akan meningkatkan debit puncak dari 280 m3/s menjadi 383 m3/s, dan juga meningkatkan prosentase hujan menjadi direct run-off dari 53% menjadi 63%. Yuwono (2005) juga mengungkapkan pengurangan luas hutan dari 36% menjadi 25%, 15% dan 0% akan menaikkan puncak banjir berturut-turut 12,7%, 58,7% dan 90,4%. Menurut Yuwono (2005) pengurangan luas hutan dari 36% menjadi 25%, 15% dan 0% akan meningkatkan laju erosi sebesar 10%, 60% dan 90%. Akibat dari erosi ini tanah menjadi padat, proses infiltrasi terganggu, banyak lapisan atas tanah yang hilang dan terangkut ke tempat-tempat yang lebih rendah, tanah yang hilang dan terangkut inilah yang menjadi sedimentasi yang dapat mendangkalkan waduk2, bendungan2 dan sungai2. setelah terjadi seperti itu, kapasitas daya tampung dari saluran irigasi tersebut menjadi lebih kecil yang akhirnya dapat menyebabkan banjir walaupun dalam kondisi curah hujan normal.

Menurut Priatna (2001) kerusakan tanah akibat terjadinya erosi dapat menyebabkan bahaya banjir pada musim hujan, pendangkalan sungai atau waduk-waduk serta makin meluasnya lahan-lahan kritis.

2.1.3. Faktor yang Mempengaruhi Besaran Banjir

Berdasarkan pantauan UNESCO (2007) besarnya banjir dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Jumlah air (hujan), luas daerah, dan periode waktu terjadinya hujan

Di daerah tangkapan hujan yang relatif kecil, hujan singkat tetapi deras telah dapat meningkatkan risiko banjir. Sedangkan di daerah tangkapan hujan yang relatif besar, risiko banjir lebih rendah. Risiko banjir dapat meningkat apabila hujan tersebut turun dalam periode waktu yang cukup lama. Namun hujan yang sangat deras atau sangat lama tidak selalu menyebabkan banjir karena sebagian air hujan mungkin menguap, terserap ke dalam tanah, atau mengalir di atas tanah.

b. Kemampuan tanah untuk menahan air

Hujan yang jatuh di atas tanah dapat diserap dan mengalir di dalam tanah melalui lapisan-lapisan tanah sampai ke kedalaman tertentu di mana tanah akan dipenuhi oleh air tanah (muka air tanah). Selain itu, air hujan juga dapat diserap oleh tumbuhan dan mengembalikannya ke udara dalam bentuk uap air. Proses ini disebut proses transpirasi.

2.1.4. Cara Menanggulangi Banjir

a. Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Karena sungai dan selokan merupakan tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.

b. Larangan membuat rumah didekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang yang datang ke kota besar hanya dengan modal seadanya. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian, akan tetapi malah sebaliknya, merusak lingkungan. Itu sebabnya pemerintah harus tegas, melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama atau untuk menetap.

c. Menanam pohon dan pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi lagi. Karena pohon adalah salah satu penopang kehidupan di suatu kota. Pohon selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya.

2.2. Permasalahan Banjir di Jakarta

2.2.1. Penyebab banjir di Jakarta

 

2.2.2. Dampak Banjir di Jakarta

2.2.3. Fakta Mengenai Banjir di Jakarta

2.2.4. Solusi dalam Mengatasi Banjir di Jakarta

Integrasi Tata Ruang dan Tata Air sangat dibutuhkan oleh Pemerintah Kota Jakarta untuk mengurangi dampak banjir setempat. Perencanaan Tata Ruang Komprehensif berbasis Ekologis sangat diperlukan terutama memperhatikan tata air di kota ini. Bagaimana perencanaan ini dapat dilakukan? Tentu saja harus melibatkan Pemerintah, Swasta dan Masyarakat..

Kedua, Integrated Water Resource Management (IWRM) Plan sangat dibutuhkan untuk mencapai visi berkurangnya banjir di Jabodetabekjur. Hal ini dibutuhkan karena daerah tangkapan yang mempengaruhi Jakarta berasal dari Jabodetabekjur. IWRM Plan ini harus disusun secara komprehensif dengan kolaborasi semua pihak terkait seperti studi kasus IWRM Singapura. Tetapi kondisi kelembagaan dan teknis juga harus diperhatikan dalam IWRM Plan Jabodetabekjur. Kemudian, diperlukan peningkatan kapasitas SDM dan mekanisme organisasi untuk menyusun, menjalankan dan mengevaluasi IWRM Plan..

Selain itu Polder diduga dibutuhkan untuk kawasan Jakarta Utara untuk mengurangi permasalahan genangan banjir karena air hujan dan pasang naik. Polder merupakan sebuah Sistem Tata Air tertutup dengan elemen – elemen tanggul, pompa, saluran, waduk retensi, pengaturan lansekap, saluran dan instalasi air kotor terpisah. Dengan catatan Polder ini harus bekerja sebagai sebuah kesatuan sistem dan terintegrasi dengan master plan drainase yang lebih makro.

Diharapkan dengan 3 solusi di atas maka banjir DKI Jakarta akan dapat dikurangi dan mencapai Visi kota Jakarta sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta 2010 adalah mewujudkan Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang sejajar dengan kota-kota besar di negara maju, dihuni oleh masyarakat yang sejahtera dan berbudaya dalam lingkungan kehidupan yang berkelanjutan.

2.3. Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Provinsi DKI Jakarta

Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Desember 2012 Provinsi DKI Jakarta (click to see enlarge)

Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Desember 2012 Provinsi Jakarta

Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Januari 2013 Provinsi DKI Jakarta (click to see enlarge)

Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Januari 2013 Provinsi DKI Jakarta

2.3.1. Deskripsi Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Provinsi DKI Jakarta yang telah di buat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dapat disimpulkan bahwa pada bulan desember tahun 2012 seluruh kecamatan berpotensi banjir kelas menengah terdapat di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Sementara itu, kecamatan yang berpotensi banjir kelas rendah terdapat di Jakarta Utara.

Daerah Berpotensi Banjir Kelas Menengah

Jakarta Barat

Jakarta Selatan

Jakarta Pusat

Jakarta Timur

Jakarta Utara

Cengkareng

Grogol

Petamburan

Kalideres

Kebon Jeruk

Taman Sari

Cilandak

Kebayoran Baru

Kebayoran Lama

Mampang Prapatan

Pancoran

Pasar Minggu

Pesanggrahan

Tebet

Cempaka Putih

Gambir

Kemayoran

Menteng

Sawah Besar

Senen

Tanah Abang

Cakung, Cipayung

Ciracas

Jatinegara

Kramat Jati

Makasar

Pulo Gadung

Cilincing

Kelapa Gading

Koja

Pademangan

Penjaringan

Tanjung Priok

Daerah Berpotensi Banjir Kelas Rendah

Jakarta Utara

Cilincing

Koja

Tanjung Priok

Berdasarkan Peta Prakiraan Daerah Potensi Banjir Provinsi DKI Jakarta yang telah di buat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dapat disimpulkan bahwa pada bulan januari tahun 2013 seluruh kecamatan berpotensi banjir kelas menengah terdapat di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Daerah Berpotensi Banjir Kelas Menengah

Jakarta Barat

Jakarta Selatan

Jakarta Pusat

Jakarta Timur

Jakarta Utara

Cengkareng

Grogol

Petamburan

Kalideres

Kebon Jeruk

Taman Sari

Cilandak

Kebayoran Baru

Kebayoran Lama

Mampang Prapatan

Pancoran

Pasar Minggu

Pesanggrahan

Tebet

Cempaka Putih

Gambir

Kemayoran

Menteng

Sawah Besar

Senen

Tanah Abang

Cakung, Cipayung

Ciracas

Jatinegara

Kramat Jati

Makasar

Pulo Gadung

Cilincing

Kelapa Gading

Koja

Pademangan

Penjaringan

Tanjung Priok

Download Softcopy

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s